Tuesday, November 10, 2015

Teknik berbicara yang efektif




Banyak pakar memberikan batasan tentang berbicara, di antaranya Tarigan (1981:15) mengatakan bahwa berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan.
Sejalan dengan Tarigan , Anton M. Moeliono dkk.(1988:114) mengatakan bahwa berbicara adalah berkata, bercakap, berbahasa, melahirkan pendapat dengan perkataan. Demikian juga Djago Tarigan (1998:34) mengatakan bahwa berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan.


Dari tiga pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa berbicara adalah kemampuan seseorang menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan dengan menggunakan bahasa lisan. Berbicara bukan hanya sekadar pengucapan bunyi-bunyi atau kata-kata.
Berbicara adalah suatu alat untuk mengomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak. Berbicara merupakan instrumen yang mengungkapkan kepada penyimak hampir-hampir secara langsung apakah sang pembicara memahami atau tidak baik bahan pembicaraannya maupun para penyimaknya; apakah dia bersikap tenang serta dapat menyesuaikan diri atau tidak, pada saat dia mengkomunikasikan gagasan-gagasannya; dan apakah dia waspada serta antusias atau tidak ( Mulgrave dalam Tarigan 1981:15).
Teknik berbicara efektif adalah berbicara secara menarik dan jelas sehingga dapat dimengerti dan mencapai tujuan yang diharapkan di dalam komunikasi.
Teknik berbicara di dalam berkomunikasi harus menyesuaikan diri antara komunikator dan komunikan kepada pesan (message) yang dipercakapkan. Secara sederhana, teknik berbicara di dalam komunikasi secara aktif dan efektif adalah sebagai berikut :
  • Memilih pokok persoalan untuk dibicarakan
  • Berbicara diiringi dengan bantuan gerak gerik
  • Menyesuaikan situasi dengan lawan bicara dengan baik
  • Menghargai dan menghormati lawan bicara dengan baik
  • Menanggapi setiap reaksi, saran, usul dari lawan bicara


Kita tidak selalu punya waktu banyak untuk menyiapkan slide-slide presentasi. Apalagi untuk mencari gambar yang sesuai dan ‘bermutu tinggi’ untuk menyampaikan gagasan: pesannya kuat, relevan, satu gambar satu ide, dan belum lagi masalah perijinan gambar yang digunakan.
Di sisi lain, jika kita menggunakan gambar yang sekedar asal cocok saja, dibuat dengan terburu-buru, besar kemungkinan bahwa kita akan membuat slide yang mentah, tidak kuat, dan tidak cukup menyentuh audiens.
Nah, sebenarnya kita tidak selalu harus menggunakan gambar dalam slide-slide presentasi. Bahkan bisa jadi, pesan yang disampaikan akan menjadi lebih kuat, atau setidaknya sama kuatnya dengan slide-slide yang menggunakan gambar. Bahkan, dari pengalaman saya, slide-slide tanpa gambar kadang menjadi lebih menarik untuk dilihat.
Agar kita bisa menghasilkan slide presentasi yang kuat impresinya pada audiens, ada beberapa prinsip yang perlu kita cermati. Berikut ini beberapa prinsip dasar untuk membuat slide presentasi tanpa gambar, yang bisa kita aplikasikan secara mudah dan cepat.